Postingan

TIDAK APA-APA KALAU HARI INI KAMU CAPEK

Gambar
  Malam itu, aku duduk sendiri di teras rumah. Secangkir kopi yang tadinya hangat sudah berubah dingin. Sama seperti beberapa mimpi yang dulu terasa begitu dekat, tetapi sekarang seperti berdiri jauh di seberang jalan sambil melambaikan tangan. Aku menatap langit. Tidak ada jawaban. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada ucapan selamat. Yang ada hanya rasa lelah. Mungkin kamu juga pernah ada di titik itu. Titik ketika semua rencana yang sudah disusun rapi seperti proposal proyek besar, ternyata berantakan hanya karena satu kenyataan sederhana: hidup tidak selalu mengikuti jadwal yang kita buat. Kita sudah berusaha. Sudah bangun pagi. Sudah belajar. Sudah bekerja keras. Sudah berdoa. Sudah menahan ego. Sudah mengalah berkali-kali. Tetapi hasilnya? Belum sesuai harapan. Kadang kita melihat teman-teman melaju lebih cepat. Ada yang usianya lebih muda tetapi bisnisnya sudah besar. Ada yang baru memulai tetapi pencapaiannya sudah ke mana-mana. Ada yang seperti baru berlari lima menit, tetapi ...

TAK SEMUA YANG PERGI HARUS DIKEJAR

Gambar
  Dulu, Aku termasuk orang yang percaya bahwa semua hal bisa diperjuangkan. Kalau ada teman menjauh, Aku dekati lagi. Kalau ada hubungan yang mulai renggang, Aku berusaha memperbaiki. Kalau ada orang yang berubah sikap, Aku mencari tahu apa salahku. Pokoknya, Aku selalu merasa bahwa segala sesuatu harus diselamatkan. Sampai akhirnya hidup mengajariku satu kenyataan yang cukup menyesakkan dada. Ternyata tidak semua yang pergi ingin kembali. Tidak semua yang menjauh sedang menunggu untuk dicari. Dan tidak semua pintu yang tertutup memang ditakdirkan untuk dibuka lagi. Awalnya sulit menerima kenyataan itu. Ada masa ketika Aku sibuk bertanya-tanya. "Apa kurangku?" "Apa Aku salah bicara?" "Apa Aku kurang baik?" "Apa Aku kurang peduli?" Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala seperti notifikasi grup WhatsApp yang tidak pernah berhenti muncul. Semakin dipikirkan, semakin lelah. Semakin dicari jawabannya, semakin tidak ditemukan. Sampai suatu hari Aku...

BABAD KELUARGA SUROHADIWIJOYO

Gambar
Riwayat Trah Agung Tumurunipun Para Sentana Tuban Bismillahirrahmanirrahim Kanthi nyebut Asma Allah Kang Maha Asih tur Maha Welas Asih. Mugi cathetan trah punika dados pangeling-eling tumrap para putra wayah lan buyut ing tembe mburi, supados boten pedhot saking asal-usulipun, boten kesupen dhateng para leluhur, sarta tansah ngugemi piwulang kabecikan ingkang sampun dipun warisaken turun-temurun. Wiwitaning Trah Miturut cariyos para sepuh lan cathetan silsilah kulawarga, trah punika kagandheng kaliyan para leluhur luhur ing tanah Jawi, ingkang turunipun saged dipun lacak wiwit saking: Raden Panji Songosari tumurun dhateng: Raden Ajeng Gagak Permata I tumurun dhateng: Raden Panji Gagak Permata II tumurun dhateng: Raden Tumenggung Gagak Permata III tumurun dhateng: Raden Suradana tumurun dhateng: Raden Panji Dipradiya I tumurun dhateng: Raden Panji Dipradiya II tumurun dhateng: Raden Catradikusuma tumurun dhateng: Raden Pranadikusuma ingkan...

MENUJU MUNAS UNMER 2026

Gambar
  MUNAS UNMER 2026 Dari Reuni Menuju Legacy: Membangun Yayasan Alumni untuk Generasi Masa Depan Tema: “Bersatu dalam Kenangan, Bergerak untuk Masa Depan!” Connect • Collaborate • Contribute MUNAS UNMER 2026 hendaknya tidak hanya menjadi agenda lima tahunan yang menghasilkan kepengurusan baru. Lebih dari itu, MUNAS harus menjadi titik awal lahirnya sebuah gerakan besar alumni yang mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi almamater. Selama ini alumni memiliki potensi luar biasa. Mereka tersebar di berbagai sektor sebagai profesional, pengusaha, akademisi, birokrat, tokoh masyarakat, maupun pemimpin organisasi. Jika potensi tersebut hanya berhenti pada silaturahmi, maka manfaatnya terbatas. Namun ketika potensi itu disatukan dalam sebuah sistem yang terorganisasi, maka alumni dapat menjadi kekuatan transformasi bagi kampus dan generasi penerus. Karena itu, salah satu gagasan strategis yang layak menjadi agenda besar MUNAS UNMER 2026 adalah pembentukan: Yayasan Alumni UNM...

TITIK TERENDAH JUSTRU MENJADI PINTU MENUJU TITIK TERINDAH

Gambar
  GPS Tuhan dan Kesempatan Kedua Ada masa dalam hidup ketika manusia merasa dirinya paling tahu arah. Ia berjalan dengan keyakinan penuh, membuat keputusan berdasarkan logika, keinginan, dan ambisi. Namun sering kali, justru pada saat itulah ia mulai menjauh dari tujuan yang sebenarnya. Percakapan sore itu menghadirkan sebuah analogi sederhana namun sangat dalam: GPS. Ketika kita berkendara menuju suatu tempat yang belum pernah kita datangi, kita mempercayakan arah kepada GPS. Saat salah belok, GPS tidak marah. Ia tidak menghukum. Ia hanya berkata, “putar balik jika memungkinkan,” lalu menghitung ulang jalur terbaik menuju tujuan. Begitu pula Tuhan. Saat manusia keluar jalur, Tuhan tidak serta-merta menghukumnya. Dia tetap menunjukkan jalan pulang, menunggu hamba-Nya kembali ke arah yang benar. Namun manusia sering merasa lebih tahu daripada petunjuk yang diberikan. Tubuh sudah memberi sinyal, kesehatan mulai menurun, pikiran lelah, tekanan darah melonjak, tetapi semua diabaika...

JAM KARET

Gambar
Di pagi yang sibuk itu, jalanan kota masih ramai oleh motor, mobil, dan orang-orang yang terburu-buru. Tapi di dalam rumah Adi, dunia berjalan dengan ritme sendiri. Air mengalir deras dari shower, aroma sabun masih menempel di rambutnya, handuk melingkar di bahu. Adi mengelap wajahnya, sambil setengah bergumam pada dirinya sendiri: “Ya ampun, lagi buru-buru tapi tetap harus rapih. Dunia ini gak bisa nunggu, tapi setidaknya aku bisa nyantai dulu...” Tiba-tiba, WA berbunyi. “Adi… kamu di mana?” Adi menatap layar, senyum tipis muncul. Ia mengetik cepat: “OTeWe broohh…” Lalu berhenti, menatap dirinya sendiri di cermin, dan tertawa kecil: “OTeWe ya… padahal baru mandi. Ah, biarin, orang-orang Indonesia mah ngerti…” Di luar, teman-temannya menunggu. Panitia acara sudah menyesuaikan rundown: start pukul 09.00, walau undangan bilang 08.00. Semua orang tahu, jam karet sudah jadi bagian dari kebiasaan. Tapi uniknya, tidak ada yang marah—justru muncul tawa kecil di antara mereka, sambil meny...

MEMIMPIN CARA RASULULLAH DI BALI

Gambar
  Di tengah gemerlap pariwisata dan derasnya arus modernisasi di Pulau Bali , umat Islam menghadapi tantangan besar dalam mencari sosok pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara agama, tetapi mampu menjadi teladan akhlak, perekat persaudaraan, dan penjaga harmoni. Fenomena kepemimpinan hari ini sering kali memperlihatkan kontras yang tajam: banyak pemimpin tampil dengan simbol-simbol religius, namun kehilangan ruh pelayanan, ketulusan, dan keberpihakan kepada umat. Dalam konteks inilah, kepemimpinan Nabi Muhammad SAW menjadi role model paling sempurna bagi umat Islam di Bali. Rasulullah tidak memimpin dengan ketakutan, tetapi dengan cinta. Beliau tidak membangun jarak dengan umat, tetapi turun langsung memikul beban mereka. Di Bali, di mana umat Islam hidup sebagai minoritas yang berdampingan dengan masyarakat Hindu dalam semangat Nyama Selam (persaudaraan lintas iman), model kepemimpinan Rasulullah sangat relevan: tegas dalam aqidah, lembut dalam muamalah, kuat dalam prinsip, ...